177 Kali dilihat
Nilai Berita :

Serukalsel.com, Banjarmasin – Air keras kembali menjadi sorotan setelah Kepala Divisi Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Kalimantan Selatan, Asep Syarifudin, disiram cairan yang diduga asam sulfat (air keras) oleh seorang pria misterius di halaman parkir sebuah kafe.

Meski efektif sebagai penghancur kulit, air berbahaya ini ternyata masih dijual bebas.

Dari hasil penelusuran Radar Banjarmasin, untuk mendapatkan air keras memang tidak sulit. wartawan koran ini menemukan penjual air keras ini di kawasan Jalan Kelayan, Banjarmasin Tengah.

Bahkan lokasi berjualan pun bukan toko kimia. Hanya dijual eceran di sebuah rumah kecil.

Sang penjual yang tak mau dikorankan mengatakan dia menjual air itu untuk cairan penyepuh emas. Harga jual per botolnya masuk cukup terjangkau, hanya Rp22 ribu per botol.

Penjual sendiri tidak mengetahui jenis air keras yang dijualnya. Dia hanya menjawab air keras ini berbahaya. “Kalau kena tangan bisa rusak, makanya pakai botol kaca,” ujar penjual itu.

Ketua Prodi Kimia di Fakultas FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Dr Atiek Winarti MSc, mengatakan jenis yang biasa digunakan oleh para penjahat atau pelaku penyiraman biasanya adalah jenis asam.

Jenisnya bermacam-macam, ada asam sulfat, asam Formiat dan Asam Florida. Dampak yang dapat ditimbulkan jika cairan itu mengenai tubuh manusia pun cukup mengerikan.

Tergantung dari konsentrasi kepekatan cairannya. “Cairan murni asam konsentrasinya sampai 98 persen,” ungkap Dr Atiek Winarti MSc kepada Radar Banjarmasin.

Semakin kecil konsentrasi kepekatannya, efek yang dapat ditimbulkan pun akan semakin minim. Ada yang hanya membuat kulit gatal-gatal, tapi jika semakin tinggi dapat menghancurkan daging manusia. “Bisa merusak protein, karena tubuh manusia itu terdiri dari protein,” katanya.

Menurut wanita berjilbab ini, air keras biasanya digunakan oleh para petani karet untuk menggumpalkan lateks (karet). Karena untuk keperluan itu, mendapatkan air keras relatif mudah.

Belum ada regulasi yang mengatur peredarannya. “Biasanya kalau yang digunakan itu sudah dicampur dengan air, sehingga kepekatannya berkurang, karena kalau asam murni itu membawanya harus menggunakan tempat kaca berwarna hitam,” ujarnya.

Menurut Atiek, pertolongan pertama jika terkena air keras adalah dengan cara memberikan air biasa dalam jumlah banyak. “Di kasih air segera, dia akan merendahkan kimianya serendah-rendahnya,” katanya.

Dharma PTR Maluegha, dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik di klinik DARPLASTIC, Banjarmasin mengatakan kulit manusia terdiri dari sembilan lapis.

Air keras dengan konsentrasi tinggi dapat menembus bahkan hingga ke lapisan terdalam, yakni lapisan lemak. Bahayanya, pada lapisan ini terdapat saraf dan pembuluh.

“Semakin tinggi konsentrasi, semakin mudah pula cairan itu mendestruksi kulit hingga mengenai saraf dan pembuluh,” jelasnya.

Luka bakar akan menjalar hingga ke dalam. Penanganannya akan disesuaikan dengan tingkat kedalaman luka, yang digolongkan menjadi beberapa grade.

Luka dengan grade I biasanya masih berupa perubahan warna. Ini dapat ditangani tanpa penanganan ahli. Sedangkan luka bakar yang diakibatkan air keras umumnya berada di grade IIa, IIb, hingga III. Dalam golongan ini, luka bakar harus mendapatkan penanganan intensif oleh dokter.

Luka bakar dapat menimbulkan cacat fungsi dan fisik. Metode penyembuhan biasanya dilakukan dengan mendahulukan perbaikan fungsi. “Dapat disembuhkan namun tidak sesempurna seperti semula,” ujar Dharma.

Sementara itu, sejauh ini Kepolisian Polda Kalsel masih berupaya keras mencari pelaku penyiram air keras terhadap Asep Syarifudin. Karyawan di kafe sudah dimintai keterangan. Polisi bahkan sudah mengecek rekaman CCTV) yang ada di sekitar lokasi kejadian.

“Sudah kita manfaatkan CCTV itu, tapi kondisinya gelap gulita jadi kami harus memperdalam lagi,” kata Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum), Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Sofyan Hidayat, kemarin usai jumpa pers penangkapan pemenggal kepala, Kamis (22/11) sore.

Meski kesulitan melihat dari CCTV, Sofyan mengatakan, anggotanya terus menyelidiki siapa pelaku penyiraman ini. Dia juga berharap kepada masyarakat jika mengetahui atau melihat dapat menginformasikan kepada kepolisian terdekat.

“Jika ada informasi mengenai kasus tersebut dapat segera laporkan kepada petugas,” imbaunya.

Sulitnya mendeteksi pelaku membuat mitos yang selama ini berkembang menjadi semakin kuat. Bahwa kasus penyiraman air keras memang selalu sulit diungkap.

Contohnya kasus penyidik KPK Novel Baswedan. Di Kalsel sendiri, kasus penyiraman air keras yang terjadi pada dokter Khalida di Amuntai, Hulu Sungai Utara. Sampai saat ini, dua kasus ini belum terungkap. (Prokalsel).

Please follow and like us: